Aku memang tergolong dokter baru di
rumah sakit ini. baru maret kemarin, aku diwisuda. Program S2 beasiswa ini
mengharuskanku mengabdi kembali ke tanah air. Padahal kalau boleh memilih, aku
lebih suka berada di Jerman. Kehidupan layak, keberadaan diakui, makan
ditanggung, pokoknya serba kecukupan deh! Lagian suka duka di tanah orang itu
lebih sreg saja di hati. Entah kenapa
. .
Kini sapaan “Guten Morgen” sudah
lenyap dari telingaku. Yang paling mungkinkan cuma wilujeng enjang atau kata-kata sejenisnya. Sedih sih, tapi demi
Indonesiaku, ya sudahlah aku terima-terima saja dipulangin. Lagian aku juga
lumayan kangen sama masakan jawa yang aneh-aneh. Ada manisnya, asinnya,
pedesnya, pokoknya nano-nano gitu. Tiap daerah pasti beda rasa. So pasti karena beda lidah tho?!
Pagi ini aku buka-buka riwayat
kehidupan calon pasienku, baik yang masih menetap maupun yang sudah
dipulangkan. Segala seluk beluk pasien aku teliti dengan seksama. Saat aku
dengan sabarnya melihat-lihat, terdengar kursi dorong yang melaju dengan
cepatnya di koridor. Entah siapa gerangan, yang penting suara roda kursi itu
mengganggu telingaku. Aku langsung berlari ke depan. Ku pastikan bahwa aku
tidak salah dengar. Dan memang benar adanya, seseorang sedang didudukkan diatas
kursi roda yang didorong cepat-cepat. Tangan gadis itu diikat erat diatas kursi
roda. Mungkin itu pasien baru, pikirku. Kini kulanjutkan aktivitasku.
Seusai membuka seluruh dokumen itu,
kini giliranku memeriksa pasien-pasien dibeberapa tempat. Aku diembani tugas
khusus menangani satu pasien yang memang ditujukan untuk menguji kesiapan
mentalku. Pasien ini sudah berkali-kali keluar masuk rumah sakit. Pada dasarnya
ia hanya depresi berat, kata orang-orang yang mengujiku. Katanya juga, ia tidak
seagresif seperti cerita pasien yang bisa mencekik hingga membunuh dokter atau suster
yang jaga. Katanya ia lama tidak tidur (insomnia gitu!). Penglihatannya selalu
terjaga hingga berkatung hitam dibawah mata. Tiada orang yang tahu, hingga
akhirnya aku juga yang harus menanyakan sendiri padanya.
“Klara, bisa ku bantu??” tanyaku
baik-baik padanya. Ia hanya diam dan tetap menatap lampu diatasnya. Aku sedikit
ciut dan merinding bila harus menatap wajahnya yang pucat pasi (mirip yang
difilm horror!). kuulangi pertanyaanku untuk kedua kalinya. Ia mulai sedikit
melirik padaku. SEREEEEEEEM!!! Matanya itu sersajam silet! Aku sedikit
merinding disana. Mencoba biasa . .
Aku jaga jarak kepadanya. Rasa
was-was masih menaungiku. Aku masih takut. Kata tutor atau pengujiku, ia paling
takut gelap. Cahaya lampu dikamarnya dikata masih kurang terang coba! padahal
kalau kamu lihat sendiri, BEH! Silau mamen!! Asli, silau banget! Kaca mata
hitam saja tetep ketembus kayaknya. Memang sadap!! Untung disini cukup dana
buat bayar listrik. Jadi nggak usah takut bakal ma.. (pas mati lampunya!)
tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii! Wawawa! Aku panik! Klara mulai gelisah bersama
kegelisahanku padanya. Mana aku berduaan doang ama dia. Matilah!
“GELAP!!GELAP!!GELAP!!” ia mulai
berteriak. Aku bingung, harus bagaimana ini? disaat remang-remang keadaan itu, aku
lihat senter! Langsung saja ku ambil tanpa ba-bi-bu. Sesaat aku menyalakan dan
mengarahkannya ke Klara, ia menengokku segera dan berlari menujuku. Aku
terpejam, takut ia akan melukaiku. Tubuhku bergetar dan kaku. Ya Allah! Gimana
ini??
“te.. te.. rima kasih” kata-katanya
terbata. Aku shock tanpa respon. Sebenarnya ia hanya memeluk dan menyalurkan
segala ketakutannya padaku. Akunya sih, mungkin sedikit lebay. Aku serasa
mengerti apa yang sedang membayanginya. Nafasku yang tersedak-sedak mulai
mengalun normal. Begitu normalnya diriku, begitupula lampu yang tadinya
mendadak tak bersahabat. Aku bersyukur ini akan berakhir, dan aku akan lari
pulang. Tapi ia tidak melepaskan pelukannya. Malah semakin ia mempererat raupan
kedua tangannya. Aku menjadi merasa sesak. Ku tanya padanya, ada apa gerangan
ia melakukan hal ini padaku. Apakah ia dendam kepadaku atau bagaimana?
“ma.. af, ta.. ku” ia melonggarkan
ikatan tangannya dan memutuskan berhenti berkata-kata. Alisku mengkerut.
Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Ia hanya terlihat kosong tanpa ada satu makna.
Lagi-lagi ia gelisah. Aku
memberanikan diri memegangnya. Ia diam dan sedikit tenang. Ia membuka
kebungkamannya selama ini. Tidak ada yang tahu mengapa. Tapi kali ini tidak
untukku.
...
“Klara! Dicari Rey di bawah”
panggil salah seorang temanku dari luar kelas. Ia anak IPS yang sekelas dengan
Rey, pacarku. Memang ruang kelas kami terpisah jauh. Aku anak IPA sedangkan dia
IPS. Terkadang kami mendebatkan keungulan program masing-masing. Perselisihan
kecil sering kali terjadi. Dan itulah bumbu dari hubungan kami. Manisnya . .
Rey tampak gelisah di bawah.
Sesegera mungkin aku menghampirinya. Tapi sebelum itu, aku sudah didahului oleh
sekelompok orang berjas hitam. Aku kurang jelas melihat raut wajah mereka. Aku
hanya menduga itu pasti suruhan papa. Aku membuntuti mereka perlahan.
Memastikan Rey akan baik-baik saja.
Sayang sekali, Rey dibawa lari
dengan jeep yang sesungguhnya tidak asing bagiku. Tapi itu bukan mobil milik papa!
Baru beberapa saat aku melihat Rey didalam mobil, mobil itu berhenti dan
terbuka salah satu daun pintunya. Aku berharap Rey keluar dari sana dan kabur
sejauh-jauhnya. Dan entah betapa shocknya aku saat ceceran darah segar menetes
deras dari tubuh yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu.
“REYYY!!!!!!!!” teriakku terisak.
Memang betul itu bukan mobil papa. Melainkan itu mobil si bejat! Lelaki hidung
belang yang telah lama mengincarku. Berkali-kali aku menolak ajakannya. Menolak
segala modus pendekatan hingga aku berani menolak cintanya. Baginya, kabar adanya
Rey dihidupku itu paling menyakitkan. Sebuah kenyataan pahit kekasih hatiku bukan
dia!
Rey terjatuh, aku berlari kecil
kearahnya. Peluh air mataku tak tertahankan. Aku berhasil meraih tangannya
sebelum ia tergeletak sekujur tubuh. Bertahanlah
Rey, aku tahu kamu kuat! Dengan segala kemungkinan yang terjadi, aku
berteriak meminta tolong. Jaket yang menyelubungiku, ku renggangkan untuk
menutupi luka tusukan di perutnya. Ia merintih. Aku takut. Tapi Rey
menguatkanku. Ia mendekatkan pendengaranku kearah mulutnya. Ia berbisik lirih. Aku nggak akan mati konyol di tangan brengsek
itu Klara! Percayalah! Ia tergeletak tak sadarkan diri. Akupun terus
menangis.
Ambulan rumah sakit terdekat segera
mengangkutnya. Sayang aku tak ikut bersamanya. Karena papa terlebih dahulu
menjemputku. Aku sudah berupaya kuat untuk tetap disampingnya, tapi papa
bersikeras melarangku. Semakin aku memberontak papa semakin keras padaku. Aku
tak berdaya saat itu. Aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan Rey, kekasihku.
…
Dia menghentikan cerita yang sudah
membawaku memasuki ruang kehidupannya. Matanya tercekat. Terlihat ia sesak dan
tambah gelisah. Nampak seberkas bayangan hitam mendekatinya dari belakang. Ia sadar
dan cepat-cepat memelukku. Diharapnya tanganku dapat menyenteri bayangan itu
dengan senter mini di tanganku. Aku melakukannya. Bayangan itu sedikit mundur.
Aku ragu. Ia mendekat. Klara memelukku lebih erat. Aku harus berani!, gumamku. Ku lihat lekat bayangan itu. Semakin
tajam ekor mataku, ia mulai menjauh. Pelukan Klara meregang dariku. Aku bergesa
ke arah bayangan itu, dan.. hilang.
“aku tetap disini Klara!
Tenanglah!” belaianku melayang disekujur ubun-ubunnya. Aku meminta Klara untuk
tidur terlebih dahulu. Aku berjanji akan menjaganya. Ia percaya dan akhirnya ia
pulas dipangkuanku. Malam ini aku akan berjaga untuknya.
Senjapun menampakkan siluetnya.
Kepala Klara sedikit ku geser dan ku pindahkan ke atas bantal. Kuputuskan untuk
mengambil wudhu dan beranjak sholat subuh.
Setelah kutuntaskan ritualku, aku
kembali ke ruangan Klara. Aku harap ia baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah
besar! Ia menghilang dari kamarnya. Mungkin ini salahku meninggalkannya dengan
keadaan kamar terbuka dan sedikit remang-remang. Aku sengaja mematikan beberapa
lampu kamarnya agar tidak menyilaukan mataku. Tapi kini apa yang telah ku
perbuat??
“Klara!!! Klara!! Dimana kamu??
Maaf aku dah ninggalin kamu sendiri! Klara!!” ku telusuri seluruh penjuru rumah
sakit. Keadaannya masih sedikit gelap, karena fajar masih bersarang diufuk
timur sana. Aku memutar otak perlahan. Tempat yang mungkin ia datangi adalah .
. . LOBI!! Oke, dengan segenap kekuatan yang ada, aku berlari ke Lobi rumah
sakit ini.
Klara hanya duduk terdiam disana, alhamdulillah
aku masih bisa menemukannya dalam keadaan baik. Wajahnya sedikit lebih suram
dari sebelumnya. Dan lagi-lagi bayangan itu mendekat. Jarakku dengannya sangat
jauh. Aku tak mungkin bisa menolongnya. Mulutku jadi ikut terbungkam saat
bayangan itu hendak meraih pergelangan tangannya dan menjalar ke bagian
lehernya. Aku ingin berlari kearahnya, tapi tubuhku terhuyung. Jatuh dan tak
kutahui apa yang telah terjadi padaku.
…
Aku menghadiri pemakaman Rey. Ia
meninggalkan sepucuk surat tak jelas dan piringan VCD diatas mejanya.
Mungkinkah barang-barang itu untukku? Atau itu sebagai tanda atas ajalnya?
Entah..
Surat itu berisikan bercak darah
dan foto benda yang memiliki cahaya sangat terang. Ku putar piringan itu dalam
laptop kesayanganku. Bayangan hitam yang tertangkap kamera amatiran itu
terlihat sekilas. Suara yang gemerisik keras menandakan kehadirannya semakin
jauh. Tapi saat alunannya semakin rintih, bayangan itu sudah tepat berada
didepan kamera. Aku sedikit melompat saat bayangan itu ada tepat didepan
kamera. Rasanya ia seperti ingin keluar dari layar dan mencekikku sampai
menyusul kepergian Rey. Buru-buru aku mematikan laptop dan membakar kaset itu.
Aku tak ingin ia hadir lagi dan lagi.
Kuputuskan pergi ke rumah
sahabatku, Nisa. Dia satu-satunya sahabatku yang bisa menenangkan
kegelisahanku. Saat aku hendak keluar rumah,si brengsek itu datang lagi. Ia
celingukan dibawah lampu jalanan. Mengharap ragaku muncul dari balik pintu ini.
Padahal hari sudah mulai gelap, tapi ia tetap bertengger disana. Aku melirik ke
arah belakangnya. Seperti ada keganjalan yang kutemui disana. Bayangan tubuhnya
itu nterlihat lebih besar dan menakutkan. Aku ragu, apakah mungkin ini.. ah,
pasti tidak!
“Allahuakbar . . Allahuakbar . . “
suara adzan terdengar nyaring ditelinga kami. Maklum, letak masjid hanya
berjarak satu rumah dari rumahku. Waktu itulah aku meyakinkan bahwa dugaanku
benar. Bayangannya tak sebesar saat sebelum adzan. Dan ia pun memilih pergi
meninggalkan rumahku. Aku semakin waspada dan kuurungkan niatku ke rumah Nisa.
Esoknya aku masih harus berfikir,
haruskah aku keluar atau tetap tinggal? Tapi aku butuh sekolah, butuh udara,
aku butuh Nisa. Ya, Nisa! Hanya Nisa yang bisa menolongku. Aku memutuskan untuk
sekolah.
Di ruang kelas, keberadaan Nisa
raib. Ia Mendadak sakit, kata ibunya. Disaat genting seperti ini, ia tiada.
Entah apa yang bisa aku lakukan. Aku sama sekali tidak konsen selama pelajaran.
Lebih sialnya lagi, hari ini ada pelajaran tambahan yang mengharuskanku tetap
tinggal di sekolah sampai menjelang petang. Pukul lima lewat limabelas aku
menuntaskan kewajibanku sebagai pelajar. Aku menelpon papa untuk tidak
menjemputku. Papa kini percaya kepadaku karena Rey kini telah tiada. Tidak ada
yang ia khawatirkan atas keselamatanku. Lagipula aku hanya main ke rumah Nisa,
nggak lebih.
Aku masih bingung, kenapa semua
menjadi begini. Semua rasanya hadir dan segera pergi jauh-jauh dariku. Walaupun kepergian Rey masih sebuah tanda
tanya besar bagiku, aku akan tetap dan selalu menempatkan dirinya didalam
hatiku. Selamanya. Apakah ini kutukan yang dikirim untukku??
“bim . . bim . . !!” sorotan
klakson mobil mengagetkanku. Aku yang tengah jalan di parkiran mobil itu
tersentak kaget. Ternyata mobil itu Dimas yang sedari tadi menungguiku
menyingkir dari jalanan.
“nyari mati loe?? Mau nyusul Rey
sekarang?? Gila loe!?!” bentak Dimas yang tidak sabar melihatku menyingkir dari
sana.
“Dimas, aku boleh nebeng mobil mu
nggak, ke rumah Nisa?” ia mengerutkan alisnya sejenak. Ia menatapku iba. Iya
mengangguk dan melupakan sedikit emosinya karena penghalangan jalan yang aku
lakukan. Dimas sedikit mengintrogasiku atas kematian Rey. Apakah aku ada
sangkut pautnya dengan keganjilan yang terjadi. Aku yang benar-benar tidak tahu
semua akan menjadi begini semakin merasa bersalah. Apakah iya ini semua karena
aku?
Dimas mengulurkan sekotak tisu
kearahku. Ia mencoba menenangkanku dan mencoba meminta maaf. Ia menjelaskan
keheranan yang membayangi perasaannya sendiri. Ia tidak akan pernah rela
sahabat kecilnya mati konyol tanpa sebab seperti ini. Ia menuduh ku yang
bukan-bukan awalnya. Padahal aku sama sekali tidak tahu menahu tentang semua
ini. Dimas bercerita kepadaku awal hingga akhirnya Rey menghilang bersama
angin.
Pagi itu Rey pergi ke toko bunga.
Ia berencana membelikanmu sebuket bunga. Ia tahu besok adalah hari ulang
tahunmu yang ke 17. Ia ingin memberikan hadiah terspesial kepadamu. Namun baginya,
itu belum cukup. Ia masih sibuk ke butique terdekat dari jangkauannya. Ia
membelikanmu gaun yang indah, dan sepasang sepatu higheels. Aku tahu karena aku
bersamanya waktu itu. Entah mengapa, ia menitipkannya padaku. Ia berpesan bila dia
bisa memenagkan taruhan dengan Erik malam ini, aku harus memberikan semua
rentetan hadiah ini untukmu. Namun bila ia kalah, maka hadiah itu harus kubuang
jauh-jauh. Dan tahukah kamu? Aku dengar desas-desus kalau kamu tidak ingin
kalau Rey memenangkan taruhan ini. Tapi aku tahu kok sekarang, kamu nggak kayak
gitu ternyata! Setelah pertaruhan itu usai, Rey akhirnya menang. Tapi Erik sengaja
sudah memanipulasi kemenangan Rey. Erik mengucapkan selamat kepada Rey, atas
kemenangannya waktu itu. Rey sengaja tidak memberitahuku berita kemenangannya.
Ia hanya akan mengatahukannya bila langsung berhadapan denganku. Tapi sayang,
saat ia pulang. Motornya mendadak menabrak truk yang kata saksi mata jarak
antara motor dengan truk itu masih dibilang jauh. Hanya kemungkinan kecil
kecelakaan itu bisa terjadi. Tapi ternyata, beginilah ujungnya.
Aku mendesah. Dimas menghentikan
ceritanya cukup sampai disana. Batang hidung gang rumah Nisa sudah terlihat.
Dimas memintaku untuk bersiap turun. Ia menitipkan salam “cepat sembuh” untuk
Nisa. Ia melambaikan tangannya. Aku membalasnya dengan senyuman. Maaf, gumamku.
“assalamu’alaikum . . “ aku
mengetuk daun pintu rumah Nisa. Ada sahutan dari dalam. Suaranya sedikit serak
seperti tengah menagis berat. Itu suara ibu Nisa. Beliau mempersilahkanku masuk
dan langsung ke kamar Nisa. Ia tersenyum padaku, walau kurasa sangat sulit
baginya melukis segelintir senyum diwajahnya. Aku mencoba mendekatinya, namun
ia berteriak. Aku tak mengerti kenapa, tapi mungkinkah? Ibu Nisa masuk dan
menarikku menjauh darinya. Ia menerangkan keanehan yang terjadi pada Nisa. Dari
kemarin petang ia merasakan hal yang aneh seperti ini. Tubuhnya menggigil tidak
jelas kenapa. Tubuhnya akan terasa sakit bila ada yang mencoba mendekatinya.
Ibu Nisapun bingung harus berbuat apa. Beliau hanya bisa melihat putri
kesayangannya dari jarak yang sedikit jauh. Ia tidak bisa memberikan belaian
kasih sayangnya.
“Aaaaaa. . . . .” teriakan histeris
terdengar dari dalam kamar Nisa. Baru kali ini suaranya bila keluar dan selepas
ini. Kami menengoknya dari bilik jendela kamarnya. Takut bila kami masuk akan
membuat Nisa semakin kesakitan. Tapi ia terlihat sesak. Seperti ada yang hendak
mencekiknya. Aku lihat!! Ya, aku melihatnya lagi! Bayangan hitam itu! Berada
tepat disebelahnya. Aku gelisah. Lampu kamar Nisa mati satu. Aku menanyakan
saklar lampu kamar Nisa kepada ibunya. Tepat “sebelah meja belajar Nisa”, kata
ibu Nisa. Aku menyipitkan pandanganku. Aku bergegas menyalakan lampu kamar Nisa
yang sempat mati. Bayangan itu melirikku. Aku tak gentar! Demi Nisa!! Aku
menyalakannya.
Ia menghilang. Entah memang hanya
rasaku atau mungkin ia takut cahaya? Ini hipotesisku. Ya, benar!! Mungkin ia
dendam terhadapku. Karenaku menyebabkan kegagalannya menghabisi nyawa
sahabatku. Aku tidak akan pernah takut konsekuensi yang akan aku hadapi.
Biarpun mati sekalipun, aku akan tetap mempertahankan orang-orang yang aku
sayangi. Tidak akan pernah!
Aku meminta ibu Nisa untuk selalu
menjaganya. Jangan sampai ada setitik kegelapan yang menutupi Nisa. Walaupun
esok menyongsong, usahakan lampu kamar Nisa terus menyala. Aku takut akan
terjadi apa-apa terhadapnya. Aku berpamitan kepada ibu Nisa. Esok hari aku akan
kembali menengok Nisa insyaAllah.
Dalam perjalanan pulang, lagi-lagi
aku melihat mobil terkutuk yang sempat membawa Rey saat itu. Jeep itu
mengawasiku. Aku tetap tak acuh walau mata ekorku selalu mengikutinya. Dia
berada didepan jeep itu. Bersandar dengan bangganya tanpa merasa berdosa. Aku
masih memendam dendeam padanya. Semua ini pasti atas kendalinya. Persetan!
Tidak habis pikirku padanya. Tidak ada jeranya ia menyayati hatiku sedikit demi
sedikit. Menusuki hatiku dengan jarum-jarum santetnya. Menjampi-jampikan aku untuk
selalu tunduk padanya. Tidak! Tidak akan pernah!
…
Aku berada di ruangan yang terang
benderang. Jarum infus sudah tertancap manis ditangan kiriku. Entah sejak kapan
ia bersarang disana. Kepalaku terasa berat. Apa aku terbentur sesuatu?
lampu-lampu yang menyilaukan mataku itu membuatku ingat akan seseorang.
KLARA!!!! Benar. Aku harus mencarinya. Tapi tubuhku? Ada apa ini? begitu berat
dan aku mulai merasa gelap. Tolong jangan lagi aku masih ingin melihatnya.
Klara.
“dokter?? Dokter bisa dengar saya? dokter
Riri?” suara itu. .
…
Aku melemparkan tubuhku ke atas
ranjang. Berharap serbuk-serbuk tidur melelapkan aku cepat. Aku tak tahan atas
semua penderitaan ini. aku ingin cepat mati rasanya. Jangan ambil mereka!
Cukuplah aku! Kumohon!
“kriiing. . kriiiing. .” bunyi telepon
rumah bordering. Papa mengangkatnya. Tidak ada sahutan diseberang sana.
Dikirannya itu Rey, padahal beliau sendiri tahu bahwa Rey telah tiada. Memang
dahulu saat Rey masih ada, ia sering meneleponku malam-malam. Dengan modus
“tanya PR” ia mengajakku sedikit pembicaraan. Aku masih ingat ia selalu
menyapaku dengan sebutan honey.
Sangat manis bila harus mengingat masa indah dahulu. Masa Rey masih ada
untukku. Menitikkan senyuman dimasamnya kehidupanku ini. Memberiku pelangi
ketika badai bergemuruh. Memberiku lautan ketika aku terbang di gurun sahara.
Menyapukan jagat raya kepedihan dengan cinta. Aku masih menyimpannya.
“siapa disana?? Jangan bercanda
malam-malam! Pastinya ini bukan Rey kan! Jawab!” bentak papa lewat ganggang
telepon. Aku sedikit terusik mendengar nama Rey disebutkan. Remang-remang aku
menatap setiap sudut kamarku. Telepon kamarku bisa tersambung dengan telepon di
ruang tengah. Aku langsung saja mengangkat ganggang telepon itu. Mendengarkan
suara yang telah menaikan pitam papa.
Mendesir. Berayun. Suara yang
terdengar dekat. Bising yang begitu kuat.
“Rey, tolong pergi! Aku sayang kamu
Rey!” nadaku merendah. Suara gemerisik itu semakin berisik. Thanks, gumamku lagi. Aku rasa ia
merindukanku seperti aku yang kini tengah merindukannya. Ia menungguku. Aku
tahu itu. Bukan untuk sekarang Rey! Bukan.
…
Mareka terlihat samar. Aku melihat
tutorku disana. Ayah, ibu, adek, dan KLARA!! Mataku langsung terbuka dengan
spontanitas. Aku ingin bangun. Meraih tangannya dan meminta maaf. Aku bersyukur
ia masih ada. Aku sangat khawatir bila ia harus pergi sebelum aku menyelesaikan
treatmentku padanya. Aku harus memulihkan keadaan psikisnya. Karena itu
tugasku. Tugas dokter jiwa.
“kl. . a. .r. . “ aku bersusah payah.
Klara menoleh kepadaku. Tatapannya kosong. Aku hanya mengisyaratkan untuk tetap
menjaga Klara dalam keadaan terang. Tidak boleh ada seberkas kegelapan
menyelimutinya. Ia juga perlu istirahat. Mengistirahatkan hati dan pikiran.
Aku sudah mampu berjalan kembali. Kata dokter
yang tengah merawatku, aku terkena anemia. Kemarin saat di depan Lobi rumah
sakit, aku terjatuh pingsan hingga koma tiga hari. Berlebihan menurutku memang.
Yah, mau gimana lagi? Sudah terjadi. Aku hanya bisa menertawakan diriku sendiri.
Kenapa aku tidak becus menjaga Klara. Aku belum berhasil menjadi dokter yang
bertanggung jawab. Aku mengutuki diriku sendiri saat itu.-to be continue-
0 komentar:
Posting Komentar