Jumat, 11 Januari 2013

kutipanku


Aku memang tergolong dokter baru di rumah sakit ini. baru maret kemarin, aku diwisuda. Program S2 beasiswa ini mengharuskanku mengabdi kembali ke tanah air. Padahal kalau boleh memilih, aku lebih suka berada di Jerman. Kehidupan layak, keberadaan diakui, makan ditanggung, pokoknya serba kecukupan deh! Lagian suka duka di tanah orang itu lebih sreg saja di hati. Entah kenapa . .
Kini sapaan “Guten Morgen” sudah lenyap dari telingaku. Yang paling mungkinkan cuma wilujeng enjang atau kata-kata sejenisnya. Sedih sih, tapi demi Indonesiaku, ya sudahlah aku terima-terima saja dipulangin. Lagian aku juga lumayan kangen sama masakan jawa yang aneh-aneh. Ada manisnya, asinnya, pedesnya, pokoknya nano-nano gitu. Tiap daerah pasti beda rasa. So pasti karena beda lidah tho?!
Pagi ini aku buka-buka riwayat kehidupan calon pasienku, baik yang masih menetap maupun yang sudah dipulangkan. Segala seluk beluk pasien aku teliti dengan seksama. Saat aku dengan sabarnya melihat-lihat, terdengar kursi dorong yang melaju dengan cepatnya di koridor. Entah siapa gerangan, yang penting suara roda kursi itu mengganggu telingaku. Aku langsung berlari ke depan. Ku pastikan bahwa aku tidak salah dengar. Dan memang benar adanya, seseorang sedang didudukkan diatas kursi roda yang didorong cepat-cepat. Tangan gadis itu diikat erat diatas kursi roda. Mungkin itu pasien baru, pikirku. Kini kulanjutkan aktivitasku.
Seusai membuka seluruh dokumen itu, kini giliranku memeriksa pasien-pasien dibeberapa tempat. Aku diembani tugas khusus menangani satu pasien yang memang ditujukan untuk menguji kesiapan mentalku. Pasien ini sudah berkali-kali keluar masuk rumah sakit. Pada dasarnya ia hanya depresi berat, kata orang-orang yang mengujiku. Katanya juga, ia tidak seagresif seperti cerita pasien yang bisa mencekik hingga membunuh dokter atau suster yang jaga. Katanya ia lama tidak tidur (insomnia gitu!). Penglihatannya selalu terjaga hingga berkatung hitam dibawah mata. Tiada orang yang tahu, hingga akhirnya aku juga yang harus menanyakan sendiri padanya.
“Klara, bisa ku bantu??” tanyaku baik-baik padanya. Ia hanya diam dan tetap menatap lampu diatasnya. Aku sedikit ciut dan merinding bila harus menatap wajahnya yang pucat pasi (mirip yang difilm horror!). kuulangi pertanyaanku untuk kedua kalinya. Ia mulai sedikit melirik padaku. SEREEEEEEEM!!! Matanya itu sersajam silet! Aku sedikit merinding disana. Mencoba biasa . .
Aku jaga jarak kepadanya. Rasa was-was masih menaungiku. Aku masih takut. Kata tutor atau pengujiku, ia paling takut gelap. Cahaya lampu dikamarnya dikata masih kurang terang coba! padahal kalau kamu lihat sendiri, BEH! Silau mamen!! Asli, silau banget! Kaca mata hitam saja tetep ketembus kayaknya. Memang sadap!! Untung disini cukup dana buat bayar listrik. Jadi nggak usah takut bakal ma.. (pas mati lampunya!) tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii! Wawawa! Aku panik! Klara mulai gelisah bersama kegelisahanku padanya. Mana aku berduaan doang ama dia. Matilah!
“GELAP!!GELAP!!GELAP!!” ia mulai berteriak. Aku bingung, harus bagaimana ini? disaat remang-remang keadaan itu, aku lihat senter! Langsung saja ku ambil tanpa ba-bi-bu. Sesaat aku menyalakan dan mengarahkannya ke Klara, ia menengokku segera dan berlari menujuku. Aku terpejam, takut ia akan melukaiku. Tubuhku bergetar dan kaku. Ya Allah! Gimana ini??
“te.. te.. rima kasih” kata-katanya terbata. Aku shock tanpa respon. Sebenarnya ia hanya memeluk dan menyalurkan segala ketakutannya padaku. Akunya sih, mungkin sedikit lebay. Aku serasa mengerti apa yang sedang membayanginya. Nafasku yang tersedak-sedak mulai mengalun normal. Begitu normalnya diriku, begitupula lampu yang tadinya mendadak tak bersahabat. Aku bersyukur ini akan berakhir, dan aku akan lari pulang. Tapi ia tidak melepaskan pelukannya. Malah semakin ia mempererat raupan kedua tangannya. Aku menjadi merasa sesak. Ku tanya padanya, ada apa gerangan ia melakukan hal ini padaku. Apakah ia dendam kepadaku atau bagaimana?
“ma.. af, ta.. ku” ia melonggarkan ikatan tangannya dan memutuskan berhenti berkata-kata. Alisku mengkerut. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Ia hanya terlihat kosong tanpa ada satu makna.
Lagi-lagi ia gelisah. Aku memberanikan diri memegangnya. Ia diam dan sedikit tenang. Ia membuka kebungkamannya selama ini. Tidak ada yang tahu mengapa. Tapi kali ini tidak untukku.
...
“Klara! Dicari Rey di bawah” panggil salah seorang temanku dari luar kelas. Ia anak IPS yang sekelas dengan Rey, pacarku. Memang ruang kelas kami terpisah jauh. Aku anak IPA sedangkan dia IPS. Terkadang kami mendebatkan keungulan program masing-masing. Perselisihan kecil sering kali terjadi. Dan itulah bumbu dari hubungan kami. Manisnya . .
Rey tampak gelisah di bawah. Sesegera mungkin aku menghampirinya. Tapi sebelum itu, aku sudah didahului oleh sekelompok orang berjas hitam. Aku kurang jelas melihat raut wajah mereka. Aku hanya menduga itu pasti suruhan papa. Aku membuntuti mereka perlahan. Memastikan Rey akan baik-baik saja.
Sayang sekali, Rey dibawa lari dengan jeep yang sesungguhnya tidak asing bagiku. Tapi itu bukan mobil milik papa! Baru beberapa saat aku melihat Rey didalam mobil, mobil itu berhenti dan terbuka salah satu daun pintunya. Aku berharap Rey keluar dari sana dan kabur sejauh-jauhnya. Dan entah betapa shocknya aku saat ceceran darah segar menetes deras dari tubuh yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu.
“REYYY!!!!!!!!” teriakku terisak. Memang betul itu bukan mobil papa. Melainkan itu mobil si bejat! Lelaki hidung belang yang telah lama mengincarku. Berkali-kali aku menolak ajakannya. Menolak segala modus pendekatan hingga aku berani menolak cintanya. Baginya, kabar adanya Rey dihidupku itu paling menyakitkan. Sebuah kenyataan pahit kekasih hatiku bukan dia!
Rey terjatuh, aku berlari kecil kearahnya. Peluh air mataku tak tertahankan. Aku berhasil meraih tangannya sebelum ia tergeletak sekujur tubuh. Bertahanlah Rey, aku tahu kamu kuat! Dengan segala kemungkinan yang terjadi, aku berteriak meminta tolong. Jaket yang menyelubungiku, ku renggangkan untuk menutupi luka tusukan di perutnya. Ia merintih. Aku takut. Tapi Rey menguatkanku. Ia mendekatkan pendengaranku kearah mulutnya. Ia berbisik lirih. Aku nggak akan mati konyol di tangan brengsek itu Klara! Percayalah! Ia tergeletak tak sadarkan diri. Akupun terus menangis.
Ambulan rumah sakit terdekat segera mengangkutnya. Sayang aku tak ikut bersamanya. Karena papa terlebih dahulu menjemputku. Aku sudah berupaya kuat untuk tetap disampingnya, tapi papa bersikeras melarangku. Semakin aku memberontak papa semakin keras padaku. Aku tak berdaya saat itu. Aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan Rey, kekasihku.
Dia menghentikan cerita yang sudah membawaku memasuki ruang kehidupannya. Matanya tercekat. Terlihat ia sesak dan tambah gelisah. Nampak seberkas bayangan hitam mendekatinya dari belakang. Ia sadar dan cepat-cepat memelukku. Diharapnya tanganku dapat menyenteri bayangan itu dengan senter mini di tanganku. Aku melakukannya. Bayangan itu sedikit mundur. Aku ragu. Ia mendekat. Klara memelukku lebih erat. Aku harus berani!, gumamku. Ku lihat lekat bayangan itu. Semakin tajam ekor mataku, ia mulai menjauh. Pelukan Klara meregang dariku. Aku bergesa ke arah bayangan itu, dan.. hilang.
“aku tetap disini Klara! Tenanglah!” belaianku melayang disekujur ubun-ubunnya. Aku meminta Klara untuk tidur terlebih dahulu. Aku berjanji akan menjaganya. Ia percaya dan akhirnya ia pulas dipangkuanku. Malam ini aku akan berjaga untuknya.
Senjapun menampakkan siluetnya. Kepala Klara sedikit ku geser dan ku pindahkan ke atas bantal. Kuputuskan untuk mengambil wudhu dan beranjak sholat subuh.
Setelah kutuntaskan ritualku, aku kembali ke ruangan Klara. Aku harap ia baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah besar! Ia menghilang dari kamarnya. Mungkin ini salahku meninggalkannya dengan keadaan kamar terbuka dan sedikit remang-remang. Aku sengaja mematikan beberapa lampu kamarnya agar tidak menyilaukan mataku. Tapi kini apa yang telah ku perbuat??
“Klara!!! Klara!! Dimana kamu?? Maaf aku dah ninggalin kamu sendiri! Klara!!” ku telusuri seluruh penjuru rumah sakit. Keadaannya masih sedikit gelap, karena fajar masih bersarang diufuk timur sana. Aku memutar otak perlahan. Tempat yang mungkin ia datangi adalah . . . LOBI!! Oke, dengan segenap kekuatan yang ada, aku berlari ke Lobi rumah sakit ini.
Klara hanya duduk terdiam disana, alhamdulillah aku masih bisa menemukannya dalam keadaan baik. Wajahnya sedikit lebih suram dari sebelumnya. Dan lagi-lagi bayangan itu mendekat. Jarakku dengannya sangat jauh. Aku tak mungkin bisa menolongnya. Mulutku jadi ikut terbungkam saat bayangan itu hendak meraih pergelangan tangannya dan menjalar ke bagian lehernya. Aku ingin berlari kearahnya, tapi tubuhku terhuyung. Jatuh dan tak kutahui apa yang telah terjadi padaku.
Aku menghadiri pemakaman Rey. Ia meninggalkan sepucuk surat tak jelas dan piringan VCD diatas mejanya. Mungkinkah barang-barang itu untukku? Atau itu sebagai tanda atas ajalnya? Entah..
Surat itu berisikan bercak darah dan foto benda yang memiliki cahaya sangat terang. Ku putar piringan itu dalam laptop kesayanganku. Bayangan hitam yang tertangkap kamera amatiran itu terlihat sekilas. Suara yang gemerisik keras menandakan kehadirannya semakin jauh. Tapi saat alunannya semakin rintih, bayangan itu sudah tepat berada didepan kamera. Aku sedikit melompat saat bayangan itu ada tepat didepan kamera. Rasanya ia seperti ingin keluar dari layar dan mencekikku sampai menyusul kepergian Rey. Buru-buru aku mematikan laptop dan membakar kaset itu. Aku tak ingin ia hadir lagi dan lagi.
Kuputuskan pergi ke rumah sahabatku, Nisa. Dia satu-satunya sahabatku yang bisa menenangkan kegelisahanku. Saat aku hendak keluar rumah,si brengsek itu datang lagi. Ia celingukan dibawah lampu jalanan. Mengharap ragaku muncul dari balik pintu ini. Padahal hari sudah mulai gelap, tapi ia tetap bertengger disana. Aku melirik ke arah belakangnya. Seperti ada keganjalan yang kutemui disana. Bayangan tubuhnya itu nterlihat lebih besar dan menakutkan. Aku ragu, apakah mungkin ini.. ah, pasti tidak!
“Allahuakbar . . Allahuakbar . . “ suara adzan terdengar nyaring ditelinga kami. Maklum, letak masjid hanya berjarak satu rumah dari rumahku. Waktu itulah aku meyakinkan bahwa dugaanku benar. Bayangannya tak sebesar saat sebelum adzan. Dan ia pun memilih pergi meninggalkan rumahku. Aku semakin waspada dan kuurungkan niatku ke rumah Nisa.
Esoknya aku masih harus berfikir, haruskah aku keluar atau tetap tinggal? Tapi aku butuh sekolah, butuh udara, aku butuh Nisa. Ya, Nisa! Hanya Nisa yang bisa menolongku. Aku memutuskan untuk sekolah.
Di ruang kelas, keberadaan Nisa raib. Ia Mendadak sakit, kata ibunya. Disaat genting seperti ini, ia tiada. Entah apa yang bisa aku lakukan. Aku sama sekali tidak konsen selama pelajaran. Lebih sialnya lagi, hari ini ada pelajaran tambahan yang mengharuskanku tetap tinggal di sekolah sampai menjelang petang. Pukul lima lewat limabelas aku menuntaskan kewajibanku sebagai pelajar. Aku menelpon papa untuk tidak menjemputku. Papa kini percaya kepadaku karena Rey kini telah tiada. Tidak ada yang ia khawatirkan atas keselamatanku. Lagipula aku hanya main ke rumah Nisa, nggak lebih.
Aku masih bingung, kenapa semua menjadi begini. Semua rasanya hadir dan segera pergi jauh-jauh dariku.  Walaupun kepergian Rey masih sebuah tanda tanya besar bagiku, aku akan tetap dan selalu menempatkan dirinya didalam hatiku. Selamanya. Apakah ini kutukan yang dikirim untukku??
“bim . . bim . . !!” sorotan klakson mobil mengagetkanku. Aku yang tengah jalan di parkiran mobil itu tersentak kaget. Ternyata mobil itu Dimas yang sedari tadi menungguiku menyingkir dari jalanan.
“nyari mati loe?? Mau nyusul Rey sekarang?? Gila loe!?!” bentak Dimas yang tidak sabar melihatku menyingkir dari sana.
“Dimas, aku boleh nebeng mobil mu nggak, ke rumah Nisa?” ia mengerutkan alisnya sejenak. Ia menatapku iba. Iya mengangguk dan melupakan sedikit emosinya karena penghalangan jalan yang aku lakukan. Dimas sedikit mengintrogasiku atas kematian Rey. Apakah aku ada sangkut pautnya dengan keganjilan yang terjadi. Aku yang benar-benar tidak tahu semua akan menjadi begini semakin merasa bersalah. Apakah iya ini semua karena aku?
Dimas mengulurkan sekotak tisu kearahku. Ia mencoba menenangkanku dan mencoba meminta maaf. Ia menjelaskan keheranan yang membayangi perasaannya sendiri. Ia tidak akan pernah rela sahabat kecilnya mati konyol tanpa sebab seperti ini. Ia menuduh ku yang bukan-bukan awalnya. Padahal aku sama sekali tidak tahu menahu tentang semua ini. Dimas bercerita kepadaku awal hingga akhirnya Rey menghilang bersama angin.
Pagi itu Rey pergi ke toko bunga. Ia berencana membelikanmu sebuket bunga. Ia tahu besok adalah hari ulang tahunmu yang ke 17. Ia ingin memberikan hadiah terspesial kepadamu. Namun baginya, itu belum cukup. Ia masih sibuk ke butique terdekat dari jangkauannya. Ia membelikanmu gaun yang indah, dan sepasang sepatu higheels. Aku tahu karena aku bersamanya waktu itu. Entah mengapa, ia menitipkannya padaku. Ia berpesan bila dia bisa memenagkan taruhan dengan Erik malam ini, aku harus memberikan semua rentetan hadiah ini untukmu. Namun bila ia kalah, maka hadiah itu harus kubuang jauh-jauh. Dan tahukah kamu? Aku dengar desas-desus kalau kamu tidak ingin kalau Rey memenangkan taruhan ini. Tapi aku tahu kok sekarang, kamu nggak kayak gitu ternyata! Setelah pertaruhan itu usai, Rey akhirnya menang. Tapi Erik sengaja sudah memanipulasi kemenangan Rey. Erik mengucapkan selamat kepada Rey, atas kemenangannya waktu itu. Rey sengaja tidak memberitahuku berita kemenangannya. Ia hanya akan mengatahukannya bila langsung berhadapan denganku. Tapi sayang, saat ia pulang. Motornya mendadak menabrak truk yang kata saksi mata jarak antara motor dengan truk itu masih dibilang jauh. Hanya kemungkinan kecil kecelakaan itu bisa terjadi. Tapi ternyata, beginilah ujungnya.
Aku mendesah. Dimas menghentikan ceritanya cukup sampai disana. Batang hidung gang rumah Nisa sudah terlihat. Dimas memintaku untuk bersiap turun. Ia menitipkan salam “cepat sembuh” untuk Nisa. Ia melambaikan tangannya. Aku membalasnya dengan senyuman. Maaf, gumamku.
“assalamu’alaikum . . “ aku mengetuk daun pintu rumah Nisa. Ada sahutan dari dalam. Suaranya sedikit serak seperti tengah menagis berat. Itu suara ibu Nisa. Beliau mempersilahkanku masuk dan langsung ke kamar Nisa. Ia tersenyum padaku, walau kurasa sangat sulit baginya melukis segelintir senyum diwajahnya. Aku mencoba mendekatinya, namun ia berteriak. Aku tak mengerti kenapa, tapi mungkinkah? Ibu Nisa masuk dan menarikku menjauh darinya. Ia menerangkan keanehan yang terjadi pada Nisa. Dari kemarin petang ia merasakan hal yang aneh seperti ini. Tubuhnya menggigil tidak jelas kenapa. Tubuhnya akan terasa sakit bila ada yang mencoba mendekatinya. Ibu Nisapun bingung harus berbuat apa. Beliau hanya bisa melihat putri kesayangannya dari jarak yang sedikit jauh. Ia tidak bisa memberikan belaian kasih sayangnya.
“Aaaaaa. . . . .” teriakan histeris terdengar dari dalam kamar Nisa. Baru kali ini suaranya bila keluar dan selepas ini. Kami menengoknya dari bilik jendela kamarnya. Takut bila kami masuk akan membuat Nisa semakin kesakitan. Tapi ia terlihat sesak. Seperti ada yang hendak mencekiknya. Aku lihat!! Ya, aku melihatnya lagi! Bayangan hitam itu! Berada tepat disebelahnya. Aku gelisah. Lampu kamar Nisa mati satu. Aku menanyakan saklar lampu kamar Nisa kepada ibunya. Tepat “sebelah meja belajar Nisa”, kata ibu Nisa. Aku menyipitkan pandanganku. Aku bergegas menyalakan lampu kamar Nisa yang sempat mati. Bayangan itu melirikku. Aku tak gentar! Demi Nisa!! Aku menyalakannya.
Ia menghilang. Entah memang hanya rasaku atau mungkin ia takut cahaya? Ini hipotesisku. Ya, benar!! Mungkin ia dendam terhadapku. Karenaku menyebabkan kegagalannya menghabisi nyawa sahabatku. Aku tidak akan pernah takut konsekuensi yang akan aku hadapi. Biarpun mati sekalipun, aku akan tetap mempertahankan orang-orang yang aku sayangi. Tidak akan pernah!
Aku meminta ibu Nisa untuk selalu menjaganya. Jangan sampai ada setitik kegelapan yang menutupi Nisa. Walaupun esok menyongsong, usahakan lampu kamar Nisa terus menyala. Aku takut akan terjadi apa-apa terhadapnya. Aku berpamitan kepada ibu Nisa. Esok hari aku akan kembali menengok Nisa insyaAllah.
Dalam perjalanan pulang, lagi-lagi aku melihat mobil terkutuk yang sempat membawa Rey saat itu. Jeep itu mengawasiku. Aku tetap tak acuh walau mata ekorku selalu mengikutinya. Dia berada didepan jeep itu. Bersandar dengan bangganya tanpa merasa berdosa. Aku masih memendam dendeam padanya. Semua ini pasti atas kendalinya. Persetan! Tidak habis pikirku padanya. Tidak ada jeranya ia menyayati hatiku sedikit demi sedikit. Menusuki hatiku dengan jarum-jarum santetnya. Menjampi-jampikan aku untuk selalu tunduk padanya. Tidak! Tidak akan pernah!
Aku berada di ruangan yang terang benderang. Jarum infus sudah tertancap manis ditangan kiriku. Entah sejak kapan ia bersarang disana. Kepalaku terasa berat. Apa aku terbentur sesuatu? lampu-lampu yang menyilaukan mataku itu membuatku ingat akan seseorang. KLARA!!!! Benar. Aku harus mencarinya. Tapi tubuhku? Ada apa ini? begitu berat dan aku mulai merasa gelap. Tolong jangan lagi aku masih ingin melihatnya. Klara.
“dokter?? Dokter bisa dengar saya? dokter Riri?” suara itu. .
Aku melemparkan tubuhku ke atas ranjang. Berharap serbuk-serbuk tidur melelapkan aku cepat. Aku tak tahan atas semua penderitaan ini. aku ingin cepat mati rasanya. Jangan ambil mereka! Cukuplah aku! Kumohon!
“kriiing. . kriiiing. .” bunyi telepon rumah bordering. Papa mengangkatnya. Tidak ada sahutan diseberang sana. Dikirannya itu Rey, padahal beliau sendiri tahu bahwa Rey telah tiada. Memang dahulu saat Rey masih ada, ia sering meneleponku malam-malam. Dengan modus “tanya PR” ia mengajakku sedikit pembicaraan. Aku masih ingat ia selalu menyapaku dengan sebutan honey. Sangat manis bila harus mengingat masa indah dahulu. Masa Rey masih ada untukku. Menitikkan senyuman dimasamnya kehidupanku ini. Memberiku pelangi ketika badai bergemuruh. Memberiku lautan ketika aku terbang di gurun sahara. Menyapukan jagat raya kepedihan dengan cinta. Aku masih menyimpannya.
“siapa disana?? Jangan bercanda malam-malam! Pastinya ini bukan Rey kan! Jawab!” bentak papa lewat ganggang telepon. Aku sedikit terusik mendengar nama Rey disebutkan. Remang-remang aku menatap setiap sudut kamarku. Telepon kamarku bisa tersambung dengan telepon di ruang tengah. Aku langsung saja mengangkat ganggang telepon itu. Mendengarkan suara yang telah menaikan pitam papa.
Mendesir. Berayun. Suara yang terdengar dekat. Bising yang begitu kuat.
“Rey, tolong pergi! Aku sayang kamu Rey!” nadaku merendah. Suara gemerisik itu semakin berisik. Thanks, gumamku lagi. Aku rasa ia merindukanku seperti aku yang kini tengah merindukannya. Ia menungguku. Aku tahu itu. Bukan untuk sekarang Rey! Bukan.
Mareka terlihat samar. Aku melihat tutorku disana. Ayah, ibu, adek, dan KLARA!! Mataku langsung terbuka dengan spontanitas. Aku ingin bangun. Meraih tangannya dan meminta maaf. Aku bersyukur ia masih ada. Aku sangat khawatir bila ia harus pergi sebelum aku menyelesaikan treatmentku padanya. Aku harus memulihkan keadaan psikisnya. Karena itu tugasku. Tugas dokter jiwa.
“kl. . a. .r. . “ aku bersusah payah. Klara menoleh kepadaku. Tatapannya kosong. Aku hanya mengisyaratkan untuk tetap menjaga Klara dalam keadaan terang. Tidak boleh ada seberkas kegelapan menyelimutinya. Ia juga perlu istirahat. Mengistirahatkan hati dan pikiran.
Aku sudah mampu berjalan kembali. Kata dokter yang tengah merawatku, aku terkena anemia. Kemarin saat di depan Lobi rumah sakit, aku terjatuh pingsan hingga koma tiga hari. Berlebihan menurutku memang. Yah, mau gimana lagi? Sudah terjadi. Aku hanya bisa menertawakan diriku sendiri. Kenapa aku tidak becus menjaga Klara. Aku belum berhasil menjadi dokter yang bertanggung jawab. Aku mengutuki diriku sendiri saat itu.

-to be continue-
Baca Selengkapnya →kutipanku Read More..